PANGKALPINANG – Sebanyak 31 mahasiswa Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI) resmi memulai program Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Selama hampir satu bulan ke depan, para mahasiswa akan mendampingi petani sawah di Negeri Serumpun Sebalai guna meningkatkan produktivitas hasil pertanian sekaligus mengoptimalkan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) modern.
Dimulainya program ini ditandai dengan seremoni penerimaan mahasiswa secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Babel, Kurniawan, di Pangkalpinang pada Senin (15/6/2026) siang.
Sebagai informasi, PEPI merupakan perguruan tinggi negeri vokasi di bidang mekanisasi pertanian yang bernaung di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian. Menggunakan sistem asrama, kampus ini fokus mencetak SDM profesional di bidang enjiniring pertanian melalui pendidikan berbasis praktik.
Dosen Pembimbing PKL, Priyatna Sasmita, menjelaskan bahwa Program PKL merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk mengintegrasikan ilmu akademis langsung di lapangan.
“PKL ini diharapkan bisa mengubah wawasan dan pemikiran anak-anak, serta menyinergikan bagaimana situasi kehidupan di kampus dengan situasi kehidupan dan permasalahan yang sebenarnya di masyarakat,” ujar Priyatna.
Program PKL tersebut kata Priyatna, diikuti mahasiswa semester IV yang berasal dari tiga program studi, yakni Mekanisasi Pertanian, Tata Air Pertanian, dan Teknologi Hasil Pertanian. Seluruh praktikan nantinya akan disebar ke beberapa wilayah dengan rincian, sebanyak 4 orang di Kabupaten Bangka, 15 orang di Bangka Selatan, 6 orang di Bangka Barat dan Belitung 6 orang. Mereka akan berada di Babel hingga tanggal 10 Juli 2026 nanti untuk mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang mereka dapat di kampus.
"Enjinering itu terkait dengan peralatan mesin pertanian. Mereka (mahasiswa-red) mempunyai dasar manajemen operasional mesin pertanian dari mulai pemeliharaan, perbaikan dan operasionalisasi termasuk juga perbengkelan," jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel, Kurniawan, minta mahasiswa magang untuk mentransfer ilmu pertanian baru guna meningkatkan produktivitas areal sawah di Babel yang dikenal memiliki karakteristik unik. Menurut Kurniawan, keunikan tersebut terletak pada sistem irigasinya.
"Di sini kondisinya unik karena kita sumber airnya seperti embung yang mata airnya tidak ada. Cuman ditadah saja, terus dialirkan. Mungkin tidak mengalir, tidak melimpah sepanjang musim dari hulu. Jadi perlu strategi untuk pengaturan dan pola tanam," tuturnya.
Dalam pertemuan tersebut, Kurniawan juga 'menantang' para mahasiswa magang untuk berpikir kreatif dan menciptakan terobosan baru yang dapat membantu petani meningkatkan produktivitas lahan mereka. Ia berharap para peserta magang dapat meninggalkan warisan nyata berupa modifikasi alat tepat guna yang langsung diimplementasikan di daerah setempat.
“Mungkin ada satu project yang bisa dijadikan oleh-oleh dari adik-adik semua. Ini lho karya kami, modifikasi alat yang sudah dirancang dan kalau bisa langsung dibangun biar jadi kenang-kenangan untuk daerah yang ditinggalkan,” tutupnya.*)

